Kamis, 06 Juli 2017

Anak Belajar Puasa, Orang Tua Harus Percaya padanya.


Ramadhan kali ini anak saya yang pertama, Ilham, berumur 4 tahun  4 bulan. Awalnya ada niat untuk mengajarkannya berpuasa, namun saya urungkan karena saya anggap dia masih terlalu kecil. Saya pun dulu belajar puasa ketika sudah TK yaitu ketika berumur 6 tahun.

Meski tidak ikut berpuasa, Ilham selalu bangun dan ikut makan ketika sahur. Nah, waktu Ilham ikut makan sahur hari ketiga saya coba bertanya apakah dia mau ikut berpuasa? “Nanti makan lagi pas azan Duhur,” begitu kata saya.

Ilham
     : "Kalau makannya pas azan ya aku telat tho, Mi, ke musholanya? Piye??" – Ilham selalu ke musholabegitu mendengar azan.

Saya       : "Ya ke mushola dulu baru makan."
Ayah
      : "Ilham kuat nggak?"
Ilham
     : "Kuat, yah. Aku tu kuat." Ia langsung berdiri dan berlagak seperti atlet sumo. Kedua kakinya dientakkan ke ubin secara bergantian dan kedua tangannya dikepalkan dengan lengan melebar.

Saya dan ayah bebarengan : "Bukan kuat begitu. Ilham kuat nggak kalau nahan nggak makan sama nggak minum sampai siang nanti?”
Ilham
     : "Kuat, kuat," katanya meyakinkan.

Nah, hari itu, alhamdulillah, berjalan lancar. Ilham tidak mengeluh lapar, haus, dan lain-lain. Justru ayahnya yang risau takut Ilham memaksakan diri. Ilham yang masih 4 tahun memiliki berat badan yang melebihi anak umur 7-8 tahun. Berat badannya sudah 24 kilogram. Makan-minum-ngemil selama ini sangat banyak. Sehingga ketika Ilham bisa tidak makan-minum-ngemil sampai siang lalu dilanjutkan lagi sampai maghrib itu membuat ayahnya galau. Hehe.

 "Jangan mami paksa lho, ditanyai kalau lapar-haus ya makan-minum aja. Masih kecil," begitu kata ayah.

....

Lain dari hari pertama, hari kedua baru pukul 08.00 wib Ilham sudah gelisah. Itu gara-gara adiknya ngemil wafer coklat di depannya.
Ilham
     : "Mi, wafer boleh?"
Saya
       : "Katanya puasa? Baru jam segini kok minta wafer? Kan tadi sahur sudah makan banyak. Telur puyuhnya tadi banyak banget lho.”


Ilham     : "Tapi aku tu pengen wafer."
Saya
       : "Lha gimana? Nggak jadi puasa?"
Ayah
     : "Ilham laper?"
Ilham
    : "Aku tu nggak laper, Yah. Tapi tu cuma rasanya laper. RASA!! RASA!! Rasanya thok, Yah."

Saya dan ayahnya geli. Kata RASA sampai diberi penekanan lho dan diulang-ulang sama Ilham. Anak itu sedang tergoda sama wafer, tapi akhirnya berhasil dilalui meski buka puasanya maju jadi jam 11.00 wib dengan minum susu, lalu makan jam 12.00 wib.

Nah, setelah itu saya yang risau karena Ilham mengaduh-aduh perutnya sakit. Setelah beberapa menit sakit itu hilang. Saya tahu perutnya kaget. Anak itu makan dengan porsi dan kecepatan seperti biasanya (kebetulan pas tidak saya suapin). Makannya banyak dan cepat. Langsung deh sakit perut. Mungkin juga karena merasa sudah sangat lapar. Tapi hari sebelumnya tidak begitu.
Saya kemudian menjadi lega setelah Ilham bermain seperti biasa dan kembali berpuasa sampai maghrib.

....

Ilham belajar berpuasa hingga hari terakhir Ramadhan dan saya merasa sangat bersyukur serta bangga padanya. Ternyata ia bisa. Meski beberapa kali puasa bedugnya tidak sempurna. Misalnya ia pernah tidak sahur karena tidurnya begitu pulas, sehingga sahurnya dilakukan pada jam sarapan. Atau ketika ia benar-benar mengeluh lapar maka buka puasanya maju jam 10.30-11.00 wib. Juga ketika ia tidak bisa menahan diri melihat adiknya makan es krim, maka saya berikan ia es krim dan ia melanjutkan lagi puasanya.

Eyang putri dan kakungnya Ilham heran dan merasa geli Ilham sudah mau dan bisa berpuasa. Dan heran juga karena saya tega pada Ilham padahal dia masih kecil. Sekali lagi, anak saya itu terkenal makannya banyak. Ketika eyangnya datang ke rumah, beberapa kali lupa Ilham sedang belajar berpuasa dan memberi Ilham makanan. Hehe.  

Kata eyang, beberapa sepupu Ilham yang seumuran belum belajar berpuasa karena salah satu alasannya orang tua si anak tidak tega karena menilai anaknya terlalu kecil. Orang tua si anak juga takut jika kurang minum akan mengakibatkan dehidrasi. Kekhawatiran itupun sempat saya alami. Tapi mungkin beberapa hal pengalaman saya di bawah ini bisa sedikit membantu anak belajar berpuasa.

  1. Orang tua harus terlebih dahulu mempunyai niat yang kuat untuk mengajarkan anak berpuasa. Karena kalau setengah-setengah akan mudah merasa tidak tega ketika anak mengeluh lapar dan haus. Harus tega berkata tidak jika anak mulai merengek lapar.dan haus, harus membiasakan disiplin sejak awal berpuasa. Ilham jarang sekali mengeluh lapar dan haus. Ia seringnya menanyakan kapan azan atau apakah azannya masih lama? Hehe.
  2. Orang tua harus percaya bahwa anaknya bisa, anaknya kuat, anaknya mampu menahan lapar dan haus selama beberapa jam. Jangan takut berlebihan jika anak akan kelaparan atau dehidrasi. Hehe. Kita juga selalu mengawasi, apakah kiranya anak-anak betul-betul lemas. Toh sebagai orang tua kita juga akan mengizinkannya berbuka.
  3. Orang tua harus memberikan sugesti kepada anak bahwa ia mampu, ia kuat, dan ia bisa. Saya juga memberikan contoh pada Ilham misal si A (teman sepermainan Ilham) juga berpuasa. Maka saya sering bilang pada Ilham ketika ia selalu menanyakan azan Duhur, “Tunggu ya, azannya masih sebentar lagi. Ilham harus puasa, malu sama si A yang sudah puasa. Dia aja kuat kok puasanya, Ilham pasti juga kuat.”
  4. Memberi pengertian kepada anak bahwa bulan Ramadhan adalan waktunya untuk berpuasa, lalu menjelaskan padanya apa itu berpuasa.
  5. Memberikan kegiatan supaya anak lupa waktu. Beberapa kegiatan Ilham dari pagi sampai Duhur adalah sebagai berikut : saya mengajaknya mengaji, setelah itu saya memberinya hadiah nonton youtube dinosaurus kesukaannya. Menemaninya bermain atau membuat prakarya. Kadang ayahnya menemani menonton film. Ketika Ilham sudah bosan melakukan kegiatan di rumah dan meminta izin saya untuk bermain ke rumah tetangga maka akan saya izinkan.
  6. Mengajak anak mengikuti semua kegiatan Ramadhan supaya makna puasanya lebih terasa. Salah satunya adalah kegiatan takjilan di komplek kami yang diadakan pukul 16.30 wib hingga waktu berbuka. Ini juga sangat membantu Ilham untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa lapar. Setelah salat Duhur ia akan bermain lagi di rumah, kadang juga tidur. Salat Asar ia lakukan di mushola, setelah itu ia akan gantian menanyakan kapan azan Maghrib? Hehe. Maka saya katakan sebentar lagi kan takjilan, ketemu sama teman-teman, setelah itu azan. Jadi masih sebentar lagi, tunggu ya.


  1. Orang tua menyediakan menu sahur yang bergizi dan disukai anak-anak.
  2. Memberikan pujian pada anak ketika ia berhasil menyelesaikan puasanya hari itu. Misalnya dengan kata-kata hebat dan pintar. Saya kebetulan tidak memberikan Ilham iming-iming hadiah apapun, karena saya pikir itu belum perlu. Selama Ilham masih cukup dengan diberikan pujian maka saya akan memberikan itu terlebih dahulu. Paling iming-imingnya menyediakan makanan favoritnya untuk berbuka seperti es krim, es teh dalam botol, es kiko. Hehehe.

Semoga tahun depan Ilham tetap bisa belajar puasa dengan baik. Syukur-syukur jam berpuasanya bertambah hingga Asar bahkan Maghrib. Semoga saya tidak perlu memaksa anak berpuasa. Semoga dengan kesadaran dan kemauannya sendiri ia menjalankan ibadah puasa. Amin.

Sampai jumpa di Ramadhan berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar